Faktor Penyebab Pasangan Selingkuh

Tak ada yang lebih menyakitkan bagi para sejoli jika pasangan mereka diam-diam merajut romantisme dengan orang lain, alias selingkuh.

Perselingkuhan bisa terjadi pada berbagai ragam pasangan. Mulai dari sejoli seumur jagung hingga yang telah berhubungan selama menahun, pasangan muda atau tua,
serta yang masih berpacaran hingga yang sudah menikah dan memiliki keturunan.

Apa penyebabnya? Siapa yang patut dipersalahkan? Mengapa mereka selingkuh meski sudah bertahun-tahun berpacaran atau menikah?

Berikut, 8 faktor penyebab orang melakukan selingkuh

Pengaruh Orang Lain dan Pengalaman

Jika seseorang telah memiliki pengalaman dengan perselingkuhan, ada kemungkinan besar bahwa mereka akan bertindak sama pada pasangannya.
Orang-orang di sekitar juga memengaruhi kecenderungan seseorang terhadap perselingkuhan.

Dalam satu polling anonim, lebih dari 75 persen pria yang melakukan perzinahan mengaku bahwa teman-teman mereka juga mengkhianati istri mereka.

Terlalu Fokus ke Kehidupan Sosial

Suatu pasangan di mana salah satu mitra mencurahkan terlalu banyak waktu ke Twitter atau jejaring sosial lainnya, maka, risiko perselingkuhan akan meningkat. Demikian menurut sebuah penelitian berjudul 'The Third Wheel: The Impact of Twitter Use on Relationship Infidelity and Divorce'.
Hubungan virtual di dunia maya dapat menyebabkan argumen bagi pasangan di dunia nyata. Faktor tersebut menciptakan lingkungan yang baik untuk perzinahan.

Romansa dan Kehidupan Seks yang Membosankan

Kurangnya emosi, hilangnya geliat romansa, serta kehidupan seks yang membosankan menjadi alasan bagi 70 persen pria dan 49 persen wanita memutuskan untuk berselingkuh. Demikian menurut survei dalam buku berjudul 'The Normal Bar' oleh Chrisianna Northrup, Pepper Schwartz, dan James Witte.

Perlu dicatat bahwa orang-orang dalam survei di atas juga mengatakan bahwa hubungan mereka bahagia secara umum: tanpa skandal besar dan masalah mengecewakan lainnya.

Sudah Mengakar

Ada orang yang tidak bisa membayangkan hidup mereka tanpa perselingkuhan. Orang-orang itu, dari berbagai usia dan latar belakang, mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengubah perilaku yang sudah mengakar tersebut.

Alasan sebenarnya untuk perilaku itu bervariasi dan mereka dapat menyembunyikan alasan itu jauh di dalam lubuk perasaan secara emosional.

Tapi pada dasarnya, sangat sulit, dan hampir tidak mungkin, bagi sebagian besar orang untuk menjalin hubungan monogami.

Tak Ada atau Hilangnya Keintiman

Ketidakmampuan melakukan percakapan dari hati ke hati dengan pasangan dan kurangnya dukungan antara satu sama lain, mendorong perempuan dan laki-laki untuk berselingkuh.

Ada stereotip bahwa motif utama seorang pria adalah seks. Namun dalam bukunya, The Truth on Cheating, konselor pernikahan Gary Neuman mengatakan bahwa 47 persen klien pria yang berselingkuh mengaku tak memiliki keintiman emosional dengan pasangannya.

Situasi menjadi lebih sulit karena pria tidak suka menunjukkan perasaan mereka. Padahal, banyak perempuan yang sangat menginginkan agar pasangan prianya memiliki perasaan terbuka.

Krisis Paruh Baya

Memasuki usia tertentu, beberapa orang mulai mengalami apa yang disebut krisis paruh baya. Dalam kondisi itu, orang-orang tersebut mungkin menjadi rentan terhadap godaan. Demikian menurut penelitian yang dilakukan oleh Adam Alter dan Hal Hershfield dari New York University.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa krisis paruh baya biasanya terjadi pada usia 29, 39, atau 49 tahun.

Tentu saja itu tidak berarti bahwa seorang pria berkeluarga yang baik dan seorang suami yang penuh kasih tiba-tiba berselingkuh begitu dia berumur 39.

Tapi, usia seseorang bisa menjadi salah satu faktor yang menyertai yang dapat memperburuk keadaan lain yang membuat orang berselingkuh.

Terlalu Sering Bekerja

Menurut salah satu jajak pendapat mengenai topik ini, lebih dari 1/3 orang yang berselingkuh adalah pelaku bisnis serius yang biasa menipu perempuan tercinta mereka selama perjalanan bisnis. Demikian menurut survei dalam buku berjudul 'The Normal Bar' oleh Chrisianna Northrup, Pepper Schwartz, dan James Witte.

Dan, 13 persen perempuan berselingkuh di tempat kerja. Kemungkinan perselingkuhan di tempat kerja meningkat selama tahun 6-9 tahun perkawinan: tahun-tahun itu adalah yang paling rapuh bagi suatu pernikahan.

Kurang Oksitosin

Oksitosin, juga disebut hormon pelukan (yang meningkat ketika kita memeluk dan mencium pasangan), memainkan peran penting dalam menciptakan dan menjaga kepercayaan dalam suatu hubungan.

Para ilmuwan berpikir bahwa kekurangan hormon itu bisa menjadi pemicu seseorang berselingkuh.

Dalam satu percobaan, beberapa pria yang sudah menikah disuntik dengan oksitosin, berkenalan dengan seorang wanita yang menarik, dan mengatakan bahwa mereka bisa mendapatkan sedekat mungkin dengan yang mereka inginkan.

Partisipan yang mendapat dosis hormon justru semakin menjaga jarak dengan wanita menarik itu. Sementara, partisipan yang tak mendapat dosis hormon itu justru mendekati perempuan menarik tersebut.

Artikel Pilihan:

Use parse tool to easy get the text style on disqus comments:
Show Parser Hide Parser